Laporan Arkeologi Ahli: Tinjauan Kronologi, Ikonografi Hindu-Syaiwa, dan Status Konservasi Situs Candi Tondowongso, Gurah, Kediri
Laporan Arkeologi Ahli: Tinjauan Kronologi, Ikonografi Hindu-Syaiwa, dan Status Konservasi Situs Candi Tondowongso, Gurah, Kediri
Oleh: Tim Kajian Arkeologi dan Budaya Kediri Raya
I. Pendahuluan: Latar Belakang Arkeologis dan Kerangka Kronologis
1.1. Latar Belakang Geografis, Sejarah Penemuan, dan Signifikansi Awal
Situs Candi Tondowongso terletak di Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kawasan Gurah dikenal kaya akan peninggalan purbakala dengan hubungan erat pada Candi Gurah dan Candi Tiru Lor. Situs ini pertama kali diekskavasi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada akhir Desember 2006 dan dilanjutkan tahun 2007. Struktur candi ditemukan terkubur sedalam 1–3 meter akibat material vulkanik, kemungkinan dari letusan Gunung Kelud. Keadaan terpendam ini justru melindungi situs dari kerusakan selama berabad-abad. Ekskavasi keempat pada Agustus 2025 menandai fase terbaru penelitian arkeologis di wilayah ini.
1.2. Kerangka Waktu Historis dan Penentuan Langgam Arsitektur
Analisis menunjukkan bahwa Situs Tondowongso berasal dari abad XI–XII Masehi, masa peralihan dari Mataram Kuno menuju Kerajaan Kediri. Menariknya, meskipun secara geografis berada di Jawa Timur, gaya arsitekturnya menunjukkan Langgam Jawa Tengah, dengan karakter peralihan antara periode Mataram Kuno dan Siŋhasāri–Majapahit. Hal ini mendukung teori Soekmono bahwa Kediri berfungsi sebagai penghubung antara tradisi arsitektur Jawa Tengah dan Jawa Timur.
II. Ikonografi Hindu: Analisis Panteon Syaiwa dan Keterkaitan Regional
2.1. Inventarisasi Arca Mayor dan Minor (Panteon Syaiwa)
Ekskavasi menemukan 14 arca bercorak Hindu, menandakan bahwa situs ini merupakan pusat pemujaan Hindu-Syaiwa. Arca utama yang ditemukan meliputi Siwa, Brahmā, Agastya, Durgā, Nandini, Sūrya, Candra serta Lingga dan Yoni. Paduan arca ini mengindikasikan bentuk pemujaan Pancha Dewata dan sistem sinkretis yang khas masa Kediri.
2.2. Hipotesis Keterkaitan Ikonografi Tondowongso dan Candi Gurah
Arca di Tondowongso dan Candi Gurah menunjukkan kesamaan gaya, memunculkan hipotesis adanya lokakarya patung tunggal di wilayah Gurah. Jika terbukti, hal ini akan menjadi bukti tentang sistem produksi arca terorganisir dan kontrol kualitas artistik pada masa Kediri.
2.3. Status Konservasi Arca Artefak Utama
Sebanyak 14 arca utama kini diamankan di Museum Sri Aji Jayabaya, Pamenang, Kediri. Sementara fragmen baru seperti bata takikan dan batu andesit dibawa ke Yogyakarta untuk pembersihan dan kajian lanjut.
| Arca Utama (Corak Hindu) | Indikasi Pemujaan | Signifikansi Ikonografis | Status Konservasi |
|---|---|---|---|
| Siwa, Lingga, Yoni, Nandini | Pemujaan Inti Syaiwa | Pusat Syaiwa Murni | Museum Sri Aji Jayabaya |
| Durgā, Agastya | Dewa Pendamping | Pemujaan Pelindung Syaiwa | Museum Sri Aji Jayabaya |
| Brahmā, Sūrya, Candra | Dewa Kosmik | Sinkretisme Syaiwa | Museum Sri Aji Jayabaya |
| Bata Takikan, Andesit | Struktur Arsitektural | Bukti teknik bata pengunci | Yogyakarta (proses kajian) |
III. Hasil Ekskavasi Terbaru (Agustus 2025) dan Struktur Bangunan
3.1. Tujuan Ekskavasi Keempat
Ekskavasi Agustus 2025 dilaksanakan oleh Pemkab Kediri bekerja sama dengan BPKW dan UGM di bawah pimpinan arkeolog Lintang Andarawati. Tujuan utama ialah menemukan struktur tambahan dan memperkuat fondasi data sejarah sekaligus mendukung pengembangan destinasi budaya.
3.2. Target Area dan Temuan Arsitektural
Ekskavasi berfokus pada tiga titik: Candi Induk (121 m²), Candi Purwara (96 m²), dan Gapuro (54 m²). Fragmen bata takikan ditemukan pada kedalaman 160 cm di sisi selatan candi. Struktur dasar mulai tampak jelas, menandai kemajuan signifikan penelitian ini.
| Struktur Target | Luas (m²) | Kedalaman (cm) | Temuan Kunci |
|---|---|---|---|
| Candi Induk | 121 | 100–160 | Fragmen bata takikan, bentuk dasar candi |
| Candi Purwara | 96 | - | Struktur bata |
| Gapuro | 54 | - | Struktur bata |
3.3. Konservasi Jangka Pendek: Pengatapan Situs
Tim arkeolog merencanakan pengatapan situs untuk melindungi struktur bata dari pelapukan. Langkah ini penting sebelum proyek konservasi permanen dimulai, mengingat situs sebagian besar tersusun dari bata merah yang rentan terhadap air dan panas.
IV. Isu Konservasi, Kendala Hukum, dan Manajemen Cagar Budaya
4.1. Kendala Utama: Akuisisi Lahan dan Konflik Harga
Upaya pelestarian terhambat oleh masalah pembebasan lahan seluas 9.700 m². Pemilik lahan menolak harga tawaran pemerintah, menyebabkan keterlambatan konservasi. Bahkan terjadi penggalian pasir ilegal yang merusak struktur situs, melanggar UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
4.2. Peran Kelembagaan dan Rekomendasi
BPKW Trowulan telah meminta Pemkab Kediri bertindak tegas mengamankan zona inti situs. Para ahli UGM menegaskan bahwa Tondowongso adalah “situs penting Kediri” yang harus dijaga untuk warisan dan pengembangan wisata budaya.
4.3. Proyeksi Penelitian dan Pemanfaatan Budaya
Rencana jangka panjang mencakup penelitian arkeometrik, perbandingan ikonografi dengan Candi Gurah, serta perluasan area ekskavasi. Situs ini berpotensi menjadi destinasi wisata budaya unggulan Kediri.
V. Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis Jangka Panjang
Candi Tondowongso bukan sekadar peninggalan arkeologis, melainkan bukti nyata transisi politik dan budaya Jawa pada abad XI. Langgam arsitekturnya yang klasik dan ikonografi Hindu-Syaiwa yang lengkap menunjukkan peran penting Kediri sebagai pusat religius awal masa klasik.
Rekomendasi Utama:
- Resolusi Lahan Mendesak: Selesaikan akuisisi lahan 9.700 m² dengan kebijakan tingkat tinggi.
- Implementasi Pengatapan: Segera lindungi struktur bata dari cuaca.
- Kajian Ikonografi Komparatif: Lanjutkan riset antara arca Tondowongso dan Gurah.
- Pengembangan Infrastruktur Budaya: Siapkan fasilitas interpretasi dan akses wisata.
Dengan langkah-langkah ini, Situs Candi Tondowongso dapat menjadi pusat riset arkeologi dan wisata budaya berkelas nasional yang memperkuat identitas sejarah Kediri.
Komentar
Posting Komentar