Langsung ke konten utama

Telaah Kritis Setono Gedong Kediri: Sintesis Antara Narasi Visual ASISI Channel dan Bukti Arkeologi Formal

Telaah Kritis Setono Gedong Kediri: Sintesis Antara Narasi Visual ASISI Channel dan Bukti Arkeologi Formal

I. Pendahuluan: Kontekstualisasi Setono Gedong dalam Peradaban Nusantara

A. Latar Belakang Geografis dan Signifikansi Multilayered Situs

Setono Gedong di Kota Kediri, Jawa Timur, merupakan titik penting dalam lanskap peradaban Jawa Timur klasik. Situs ini merekam perjalanan sejarah panjang, dari masa Hindu-Buddha hingga awal Islamisasi Nusantara. Keberadaannya sebagai “jantung spiritual” Kediri memperlihatkan kesinambungan tradisi dan perubahan fungsi, dari tempat pemujaan Hindu menjadi pusat penyebaran Islam. Bukti arkeologis seperti arca, lapik candi, dan simbol kosmologis menegaskan lapisan sejarah yang kompleks dan bertumpuk.

B. Mengapa Melalui Lensa ASISI Channel?

ASISI Channel dikenal luas karena pendekatan visual-arkeologisnya dalam menjelaskan situs-situs klasik Nusantara. Dengan gaya reportase investigatif, ASISI mengajak publik melihat detail-detail lapangan yang sering terlewat, termasuk di Setono Gedong. Pendekatan visual ini membuka ruang dialog antara data arkeologi formal dan interpretasi populer, menciptakan peluang bagi sintesis pemahaman sejarah yang lebih inklusif dan kritis.

II. Jejak Klasik Hindu-Buddha di Setono Gedong (Fase Pra-Islamisasi)

A. Fungsi Awal Situs dan Bukti Arkeologis

Temuan arca, lapik, dan batu berornamen menunjukkan bahwa Setono Gedong pada mulanya berfungsi sebagai pusat pemujaan Hindu, kemungkinan Waisnawa. Situs ini mungkin menjadi tempat dharmma atau pertapaan raja, dengan pola arsitektur khas Kediri–Majapahit.

B. Analisis Artefak: Patmasana, Garuda, dan Simbolisme Kosmologis

ASISI Channel menyoroti keberadaan Patmasana bertipe utpala (teratai biru) yang dihiasi figur Garuda pada empat sisinya. Dalam ikonografi Hindu, Garuda adalah wahana Dewa Wisnu, sehingga artefak ini sangat mungkin menjadi alas Arca Wisnu. Selain itu, simbol tapaq darah di beberapa batu menunjukkan pengaruh Majapahit dan fungsi apotropaik (penolak bala).

C. Anomali Struktur dan Orientasi Utara

ASISI menyoroti kejanggalan orientasi situs yang menghadap utara—hal yang jarang pada candi Jawa Timur klasik. Dugaan kuat menunjukkan bahwa tangga dan susunan batu di Setono Gedong merupakan hasil pemanfaatan ulang (spolia) pasca-1953, berdasarkan perbandingan dengan foto-foto kolonial Belanda. Situs kini adalah hasil rekontekstualisasi dari reruntuhan klasik menjadi kompleks baru di era modern.

III. Akulturasi Damai dan Fase Islamisasi Awal di Kediri

A. Peran Syekh Syamsudin Al-Wasil

Islamisasi Kediri berlangsung damai melalui peran ulama Persia, Syekh Syamsudin Al-Wasil, pada abad ke-10 Masehi. Beliau menyebarkan Islam dengan pendekatan akulturatif, menyelaraskan ajaran tauhid dengan budaya lokal. Kini, makam beliau di Setono Gedong menjadi pusat ziarah utama di Kediri.

B. Analisis Epigrafi dan Kontroversi Inskripsi

Inskripsi di makam Syekh Wasil menyebut gelar “al-imam al-kamil” dan “as-syafi’i madzaban”, menandakan mazhab Syafi’i dan asal-usul Arab-Persia. Namun penelitian Gullot & Kalus mengungkap adanya kerusakan inskripsi yang diduga disengaja, kemungkinan terkait konflik teologis pasca-Majapahit.

C. Tradisi Pemakaman dan Modernisasi Situs

Tradisi pemakaman di Setono Gedong masih menunjukkan pengaruh pra-Islam. Sejak dibangunnya Masjid Auliya’ (1967) dan pemugaran tahun 2003, kawasan ini menjadi destinasi wisata religi yang memadukan sejarah, spiritualitas, dan kebanggaan lokal.

IV. Analisis Narasi ASISI Channel di Ruang Digital

A. Metodologi dan Gaya Populer

ASISI Channel menggabungkan visualisasi arkeologi dan narasi populer yang komunikatif. Gaya “investigatif-visual” ini efektif menghidupkan kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian situs sejarah.

B. Sudut Pandang dan Keterbatasan

Fokus ASISI pada anomali fisik (tangga, orientasi, struktur) sangat kuat, namun belum menjangkau kompleksitas epigrafi seperti perusakan inskripsi. Keterlibatan peneliti formal dapat memperkaya kedalaman narasi tanpa mengurangi daya tarik visualnya.

V. Sintesis Kritis: ASISI vs. Akademik

A. Validitas Klaim dan Data Lapangan

Interpretasi ASISI mengenai Patmasana dan dugaan Arca Wisnu memiliki validitas ikonografis tinggi. Analisis foto Belanda 1941–1953 juga memperkuat hipotesis pemanfaatan ulang material candi. Situs ini merekam tiga lapisan sejarah: Klasik (Waisnawa), Transisi (Islam Awal), dan Modernisasi (pasca-1950).

B. Transisi Agama dan Potensi Konflik

Narasi populer menonjolkan akulturasi damai, namun data epigrafi menunjukkan adanya dinamika internal Islamisasi di Jawa Timur. Hal ini memperkaya pemahaman sejarah, menempatkan Setono Gedong bukan hanya sebagai simbol harmoni, tetapi juga arena negosiasi spiritual dan politik.

C. Reinterpretasi Fungsi Ritual

Kemungkinan fungsi Setono Gedong sebagai tempat pendharmaan raja (dharmma) tidak dapat diabaikan. Pemujaan Waisnawa di sini mungkin memiliki kaitan dengan kultus dewaraja Airlangga, memperkuat keterkaitan Kediri dengan pusat kekuasaan Jawa Timur Klasik.

VI. Kesimpulan dan Rekomendasi

A. Cermin Multilayered Sejarah Kediri

Setono Gedong adalah situs multilayered yang memadukan warisan Klasik, Islam Awal, dan modern. Transformasinya mencerminkan perjalanan spiritual dan kultural masyarakat Kediri dari masa ke masa.

B. Kontribusi dan Batas Narasi ASISI Channel

ASISI Channel berperan penting mempopulerkan arkeologi publik di era digital. Namun, integrasi antara bukti visual dan kajian akademis masih perlu diperkuat agar pemahaman sejarah lebih akurat dan seimbang.

C. Rekomendasi Kolaboratif

  • Penelitian Arkeologi Lanjutan terhadap arca dan lapik candi di sekitar situs.
  • Integrasi Kajian Epigrafi ke dalam narasi publik agar masyarakat memahami dinamika sejarah sebenarnya.
  • Kolaborasi Media dan Akademisi untuk membangun narasi sejarah Kediri yang faktual sekaligus menarik.

Penulis: Sweet Roro Inggrid 
Editor: Redaksi Suara Warga Kediri
Label: Sejarah Kediri, Arkeologi Nusantara, ASISI Channel, Wisata Religi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa Jagalan Kediri

Berita Lokal • Kediri Ratusan Seniman Jaranan Kediri Bersatu Setelah Bhabinkamtibmas Jagalan Dilaporkan Published: October 14, 2025 • Kelurahan Jagalan, Kota Kediri Ringkasan: Kasus pelaporan Bhabinkamtibmas Kelurahan Jagalan, Aiptu Soni Andiyan Effendi, oleh seorang seniman jaranan bernama Bayu memicu gelombang solidaritas dari ratusan pelaku seni tradisional di Kediri. Mereka berencana menggelar aksi damai dan meminta proses hukum yang transparan. Kronologi Kasus di Jagalan Kediri KEDIRI – Peristiwa terjadi saat pertunjukan jaranan di kawasan Kelurahan Jagalan . Ketika suasana mulai ricuh, Aiptu Soni yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas setempat berusaha melerai. Namun, muncul tuduhan bahwa ia melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang penonton bernama Bayu. Bayu kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Kediri Kot...

Oknum Polisi Kediri Diduga Terlibat Jaringan Bandar Sabu

Oknum Polisi Kediri Diduga Terlibat Jaringan Bandar Sabu KEDIRI – Dunia penegakan hukum di Kota Kediri kembali diguncang kabar tidak sedap. Seorang oknum anggota kepolisian berinisial Bripka AT diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkoba jenis sabu-sabu. Kasus ini mencuat setelah aparat berhasil mengamankan seorang pemakai, yang kemudian mengarah pada pengembangan penyidikan hingga menyeret nama oknum tersebut. Menurut laporan Radar Kediri (Jawa Pos Group), penangkapan bermula dari penggerebekan terhadap seorang pengguna sabu. Dari hasil interogasi dan pengembangan kasus, petugas menemukan bahwa pemakai tersebut mendapatkan barang haram dari seorang bandar yang diduga menerima uang dari Bripka AT untuk “kulakan” sabu-sabu. Kapolres Kediri Kota, AKBP Anggi Saputra Ibrahim , saat dikonfirmasi media menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir anggota yang terlibat dalam tindak pidan...

Kasus Bhabinkamtibmas Jagalan Kediri Berakhir Damai, Warga dan Polisi Saling Memaafkan

Kasus Bhabinkamtibmas Jagalan Kediri Berakhir Damai, Warga dan Polisi Saling Memaafkan Kediri – Kasus laporan warga terhadap oknum Bhabinkamtibmas Kelurahan Jagalan, Kecamatan Kota, Kota Kediri , akhirnya menemukan titik terang. Setelah sempat ramai dibicarakan publik, kedua pihak sepakat berdamai dan saling memaafkan tanpa melanjutkan ke proses hukum. Latar Belakang Kasus Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 11 Oktober 2025 , saat berlangsungnya pertunjukan kesenian jaranan di lingkungan Jagalan. Seorang warga (inisial B ) mengaku mendapat perlakuan kasar dari seorang anggota polisi berpangkat Aiptu, yang diketahui bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di kelurahan tersebut. Usai kejadian, korban sempat melapor ke Divisi Propam Polres Kediri Kota dengan didampingi organisasi kepemudaan HIPERI (Himpunan Pemuda Kediri) . Laporan ini mendapat perhatian publik, karena dinilai menjadi ujian bagi transparansi dan etika kepolisian di tingkat ...