Langsung ke konten utama

🚧 Proyek Selingkar Wilis: Harapan Besar di Balik Progres yang Masih Terbatas Hingga 2025

🚧 Proyek Selingkar Wilis: Harapan Besar di Balik Progres yang Masih Terbatas Hingga 2025

Proyek Selingkar Wilis merupakan salah satu kawasan strategis nasional yang diatur dalam Perpres Nomor 80 Tahun 2019. Tujuannya sederhana namun ambisius — membuka konektivitas antar daerah di lereng Gunung Wilis agar pertumbuhan ekonomi wilayah selatan Jawa Timur bisa lebih merata.

Apa Itu Proyek Selingkar Wilis?

Jalur ini dirancang menghubungkan enam kabupaten di Jawa Timur:

  • Tulungagung
  • Trenggalek
  • Ponorogo
  • Madiun
  • Nganjuk
  • Kediri

Selain berfungsi sebagai jalur transportasi utama, Selingkar Wilis diharapkan menjadi koridor ekonomi dan wisata alam baru di Jawa Timur, memunculkan destinasi baru dan mendukung akses ke Bandara Dhoho Kediri.

Progres Hingga Tahun 2025

Hingga pertengahan tahun 2025, proyek Selingkar Wilis masih berada di tahap penguatan perencanaan dan pengembangan ruas pendukung. Beberapa poin pentingnya antara lain:

1. Penetapan Trase & Perencanaan Teknis

Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Kementerian PUPR telah memperjelas trase jalan utama (ring road) dan ruas “sirip” atau “radial” yang menghubungkan antar kabupaten. Namun, karena kondisi geografis yang kompleks dan pembagian kewenangan antar daerah, trase final belum sepenuhnya disepakati.

2. Pengerjaan Ruas Pendukung (Sirip & Radial)

Beberapa kabupaten telah mulai memperlebar dan memperbaiki jalan-jalan penghubung menuju kawasan Selingkar Wilis, contohnya:

  • Jalur Banjarmlati – Mojo – Catut di Kediri
  • Ngadi – Ngetrep – Beruk di Nganjuk
  • Ruas Kare – Pupus di perbatasan Madiun dan Ponorogo

Meski belum menjadi jalur lingkar penuh, akses lokal sudah mulai terkoneksi dan dimanfaatkan masyarakat setempat.

3. Akses Non-Tol Menuju Bandara Dhoho

Pemerintah Kabupaten Kediri juga memperlebar jalan non-tol sebagai akses utama menuju Bandara Dhoho. Langkah ini menjadi bagian dari jaringan konektivitas yang pada akhirnya akan terintegrasi dengan Selingkar Wilis.

4. Tantangan dan Kendala Teknis

Beberapa wilayah mengalami kerusakan tanah dan jalan amblas, terutama di Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo (Tulungagung). Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan di kawasan pegunungan seperti Wilis membutuhkan rekayasa teknis dan geologi yang matang agar aman dan berkelanjutan.

Koordinasi Antar Daerah Terus Diperkuat

Pada 2025, sejumlah kepala daerah yang tergabung dalam kawasan Selingkar Wilis telah melakukan pertemuan dengan Kepala BPIW Kementerian PUPR. Pertemuan itu membahas penyamaan visi pembangunan, integrasi pariwisata, serta penyusunan rencana pendanaan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan dukungan pemerintah pusat.

Kehadiran Bandara Dhoho serta proyek Tol Kediri–Tulungagung diproyeksikan menjadi penggerak utama kawasan ini dalam lima tahun ke depan.

Harapan Besar untuk 2026 dan Seterusnya

Walau progres fisik utama Selingkar Wilis masih terbatas hingga 2025, optimisme masyarakat tetap tinggi. Setiap perbaikan akses jalan di lereng Wilis berarti membuka peluang baru:

  • Kemudahan distribusi hasil pertanian
  • Meningkatnya kunjungan wisata
  • Tumbuhnya sentra ekonomi baru di wilayah selatan

Jika konsistensi anggaran dan sinergi antar daerah terus dijaga, Selingkar Wilis dapat menjadi “sabuk emas” pembangunan Jawa Timur — bukan hanya jalur transportasi, tapi juga simbol pemerataan ekonomi dan kemajuan kawasan pedesaan.

Penutup

Selingkar Wilis bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan cita-cita besar pemerataan pembangunan Jawa Timur bagian selatan. Tahun 2025 menjadi titik penting transisi: dari perencanaan menuju realisasi nyata. Semoga pada tahun-tahun mendatang, jalan lingkar yang mengelilingi Gunung Wilis benar-benar bisa terwujud dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat.

#SelingkarWilis #Kediri #PembangunanJawaTimur #ProyekStrategisNasional #BandaraDhoho #TolKediriTulungagung #Infrastruktur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa Jagalan Kediri

Berita Lokal • Kediri Ratusan Seniman Jaranan Kediri Bersatu Setelah Bhabinkamtibmas Jagalan Dilaporkan Published: October 14, 2025 • Kelurahan Jagalan, Kota Kediri Ringkasan: Kasus pelaporan Bhabinkamtibmas Kelurahan Jagalan, Aiptu Soni Andiyan Effendi, oleh seorang seniman jaranan bernama Bayu memicu gelombang solidaritas dari ratusan pelaku seni tradisional di Kediri. Mereka berencana menggelar aksi damai dan meminta proses hukum yang transparan. Kronologi Kasus di Jagalan Kediri KEDIRI – Peristiwa terjadi saat pertunjukan jaranan di kawasan Kelurahan Jagalan . Ketika suasana mulai ricuh, Aiptu Soni yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas setempat berusaha melerai. Namun, muncul tuduhan bahwa ia melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang penonton bernama Bayu. Bayu kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Kediri Kot...

Oknum Polisi Kediri Diduga Terlibat Jaringan Bandar Sabu

Oknum Polisi Kediri Diduga Terlibat Jaringan Bandar Sabu KEDIRI – Dunia penegakan hukum di Kota Kediri kembali diguncang kabar tidak sedap. Seorang oknum anggota kepolisian berinisial Bripka AT diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkoba jenis sabu-sabu. Kasus ini mencuat setelah aparat berhasil mengamankan seorang pemakai, yang kemudian mengarah pada pengembangan penyidikan hingga menyeret nama oknum tersebut. Menurut laporan Radar Kediri (Jawa Pos Group), penangkapan bermula dari penggerebekan terhadap seorang pengguna sabu. Dari hasil interogasi dan pengembangan kasus, petugas menemukan bahwa pemakai tersebut mendapatkan barang haram dari seorang bandar yang diduga menerima uang dari Bripka AT untuk “kulakan” sabu-sabu. Kapolres Kediri Kota, AKBP Anggi Saputra Ibrahim , saat dikonfirmasi media menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir anggota yang terlibat dalam tindak pidan...

Kasus Bhabinkamtibmas Jagalan Kediri Berakhir Damai, Warga dan Polisi Saling Memaafkan

Kasus Bhabinkamtibmas Jagalan Kediri Berakhir Damai, Warga dan Polisi Saling Memaafkan Kediri – Kasus laporan warga terhadap oknum Bhabinkamtibmas Kelurahan Jagalan, Kecamatan Kota, Kota Kediri , akhirnya menemukan titik terang. Setelah sempat ramai dibicarakan publik, kedua pihak sepakat berdamai dan saling memaafkan tanpa melanjutkan ke proses hukum. Latar Belakang Kasus Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 11 Oktober 2025 , saat berlangsungnya pertunjukan kesenian jaranan di lingkungan Jagalan. Seorang warga (inisial B ) mengaku mendapat perlakuan kasar dari seorang anggota polisi berpangkat Aiptu, yang diketahui bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di kelurahan tersebut. Usai kejadian, korban sempat melapor ke Divisi Propam Polres Kediri Kota dengan didampingi organisasi kepemudaan HIPERI (Himpunan Pemuda Kediri) . Laporan ini mendapat perhatian publik, karena dinilai menjadi ujian bagi transparansi dan etika kepolisian di tingkat ...