Langsung ke konten utama

Profil Lengkap Ir. H. Sutrisno, M.M. – Bupati Kediri Dua Periode dan Pembangun SLG

Profil Lengkap Ir. H. Sutrisno, M.M. – Bupati Kediri Dua Periode dan Pembangun SLG

Suara Warga Kediri – Nama Ir. H. Sutrisno, M.M. tidak bisa dilepaskan dari sejarah pembangunan Kabupaten Kediri modern. Ia adalah Bupati Kediri dua periode yang dikenal sebagai penggagas Simpang Lima Gumul (SLG), ikon baru Kediri yang kini menjadi magnet wisata dan ekonomi.

🔹 Biografi dan Latar Belakang Pendidikan

Sutrisno lahir di Kediri pada tahun 1954. Ia bergelar Insinyur (Ir.) dan Magister Manajemen (M.M.). Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, berwawasan teknokrat, dan memiliki ketertarikan besar pada tata ruang wilayah serta pembangunan ekonomi lokal. Beliau menikah dengan Dr. Hj. Haryanti Sutrisno, yang kemudian melanjutkan kepemimpinan sebagai Bupati Kediri pada periode 2010–2021 (Wikipedia Kabupaten Kediri).

🔹 Karier Politik dan Pilkada

Sebelum menjadi bupati, Sutrisno aktif di birokrasi dan pemerintahan daerah. Ia kemudian terpilih sebagai Bupati Kediri untuk dua periode berturut-turut (2000–2010), diusung oleh PDI Perjuangan. Dalam masa jabatannya, Sutrisno dikenal sebagai figur kuat dan tegas dalam menentukan arah pembangunan daerah.

Usai masa jabatan berakhir, posisi bupati dilanjutkan oleh istrinya, Haryanti Sutrisno. Sutrisno sendiri sempat menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Kabupaten Kediri hingga 2019 sebelum mengundurkan diri karena dinamika politik internal (Kompas.com).

🔹 Program Unggulan dan Kebijakan Strategis

Di bawah kepemimpinan Sutrisno, Kabupaten Kediri mengalami banyak perubahan, terutama dalam bidang infrastruktur dan pariwisata. Ia mempercepat pembangunan jalan, fasilitas publik, dan pengembangan kawasan wisata.

Salah satu fokus besarnya adalah pengembangan Gunung Kelud sebagai destinasi wisata unggulan. Pada 2005–2007, Pemkab Kediri mengalokasikan sekitar Rp30 miliar untuk pembangunan jalan, area parkir, gazebo, serta sarana pendukung wisata (Tempo.co).

🔹 Pembangunan Simpang Lima Gumul (SLG)

Proyek terbesar Sutrisno adalah Simpang Lima Gumul, monumen raksasa yang kini menjadi ikon Kabupaten Kediri. Inspirasi pembangunan SLG berasal dari gagasan persatuan lima wilayah Kediri dan simbol kemegahan Arc de Triomphe di Paris.

Pembangunan SLG dimulai pada tahun 2003 dan rampung pada 2008. Proyek ini menelan biaya hingga ratusan miliar rupiah dan menjadi salah satu proyek multiyears terbesar di masa itu. SLG dirancang sebagai pusat bisnis dan perdagangan (Central Business District) Kabupaten Kediri (Wikipedia Simpang Lima Gumul).

Monumen Simpang Lima Gumul Kediri

Kini, kawasan SLG menjadi pusat kegiatan masyarakat setiap akhir pekan, mulai dari wisata, bazar, hingga event ekonomi kreatif.

🔹 Kontroversi dan Isu Publik

Meski sukses membangun infrastruktur, Sutrisno juga menuai kontroversi. Salah satunya adalah tudingan dinasti politik ketika ia menyerahkan kekuasaan kepada istrinya, yang disebut-sebut sebagai salah satu contoh pertama “regenerasi dinasti politik” di Indonesia (Kompas.com).

Selain itu, muncul polemik mengenai penguasaan lahan di kawasan SLG yang semula diperuntukkan untuk publik, namun sebagian diduga berpindah ke tangan perorangan. Sejumlah warga dan pemerhati aset daerah menuntut transparansi kepemilikan dan penataan ulang kawasan tersebut (Kompas Regional).

Beberapa pejabat di era Sutrisno juga pernah terseret kasus korupsi, meski tidak langsung melibatkan dirinya (Antara News).

🔹 Warisan Kepemimpinan

Warisan Sutrisno paling nyata terlihat pada infrastruktur modern dan konsep tata ruang Kabupaten Kediri yang ia rancang. Simpang Lima Gumul kini bukan hanya ikon, tapi juga menjadi simbol kebangkitan ekonomi Kediri.

Meski sosoknya jarang muncul di publik setelah 2010, nama Sutrisno tetap melekat dalam sejarah modern Kediri sebagai pemimpin yang berani mengambil langkah besar dalam pembangunan daerah.


#BupatiKediri #IrHSutrisnoMM #KabupatenKediri #PemerintahanKediri #SimpangLimaGumul #SejarahKediri #TokohKediri #WargaKediriRaya #KediriHebat #KediriBangkit #SuaraWargaKediri


📚 Sumber Referensi:

Ditulis oleh Tim Suara Warga Kediri, 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah dan Dilema Kebijakan Lokalisasi di Kota dan Kabupaten Kediri: Analisis Historis dan Dampak Pasca-Penutupan

Sejarah dan Dilema Kebijakan Lokalisasi di Kota dan Kabupaten Kediri: Analisis Historis dan Dampak Pasca-Penutupan Kota dan Kabupaten Kediri memiliki sejarah panjang dalam tata kelola bisnis seks dan kebijakan lokalisasi. Dari masa Lemah Geneng hingga Semampir, dinamika sosial, ekonomi, dan moralitas menjadi pusat perdebatan yang terus berlangsung hingga kini. Artikel ini menyajikan kajian komprehensif tentang sejarah, kebijakan, dan dampak pasca-penutupan lokalisasi di Kediri. I. Pengantar Historis dan Konteks Kebijakan Prostitusi di Kediri 1.1. Latar Belakang dan Definisi Lokalisasi Lokalisasi di Kediri diartikan sebagai tempat terpusat bagi praktik prostitusi terorganisir. Kota Kediri memiliki pusat lokalisasi terkenal bernama Semampir , sedangkan Kabupaten Kediri memiliki sentra-sentra kecil seperti Gedangsewu . Pemerintah Kediri berulang kali mencoba menata, memusatkan, hingga menutup praktik tersebut, dengan latar belakang moral, sosia...

Profil Regional Strategis: Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri — Analisis Ketahanan Ekonomi, Modal Budaya, dan Keselarasan Pembangunan (Outlook 2021–2026)

Profil Regional Strategis: Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri — Analisis Ketahanan Ekonomi, Modal Budaya, dan Keselarasan Pembangunan (Outlook 2021–2026) Dipublikasikan: 3 November 2025 • Penulis: Tim Analisis Lokal Laporan ini menyajikan profil strategis Kecamatan Plemahan sebagai basis evaluasi kebijakan, pengalokasian sumber daya, dan strategi pembangunan berkelanjutan. Analisis mencakup kondisi administratif, demografi, struktur ekonomi, modal budaya, dan keselarasan dengan RPJMD Kabupaten Kediri 2021–2026. I. Konteks Strategis dan Fondasi Administratif Kecamatan Plemahan merupakan distrik administratif dan agraris penting di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Profil ini berlandaskan publikasi statistik resmi, termasuk Kecamatan Plemahan Dalam Angka yang diterbitkan oleh BPS Kabupaten Kediri (edisi tahunan; tanggal rilis yang konsisten: 26 September). 1. Profil Administratif ...

Alas Simpenan Kediri: Aset Konservasi Nasional dan Pusat Ficus

Alas Simpenan Kediri: Aset Konservasi Nasional dan Pusat Ficus Laporan Analisis Konservasi Strategis Cagar Alam Manggis Gadungan (Alas Simpenan), Kediri I. Ringkasan Eksekutif: Alas Simpenan sebagai Aset Konservasi Nasional Cagar Alam Manggis Gadungan, atau yang secara lokal dikenal sebagai Alas Simpenan , merupakan kawasan konservasi yang memiliki signifikansi ganda: sebagai situs historis kolonial dan sebagai pilar strategis dalam konservasi ekologis modern. Kawasan ini ditetapkan sejak tahun 1919 dan kini berstatus IUCN Category Ia (Cagar Alam Lindung) — status konservasi paling ketat di dunia. Namun dalam praktiknya, kawasan ini juga berfungsi sebagai wanawisata (wisata hutan terbatas), didorong oleh populasi besar Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis) serta lokasinya yang mudah diakses. Sejak tahun 2022 , kawasan ini juga menyandang status baru sebagai Pusat Ficus Nasional (PFN) , mengukuhkan peran pentingnya dalam menjaga kestabil...