Drs. H. Achmad Maschut: “Bapake Macan Putih” Kota Kediri
Drs. H. Achmad Maschut adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah modern Kota Kediri. Sebagai Wali Kota yang menjabat dua periode (1999–2009), ia meninggalkan jejak pembangunan, penguatan budaya lokal, dan dukungan kuat terhadap dunia sepak bola Persik Kediri. Artikel ini menyajikan perjalanan hidupnya secara kronologis, capaian utama, kontroversi yang menyertai, serta warisan yang masih terasa hingga hari ini.
Profil & Data Dasar
- Nama lengkap: Drs. H. Achmad (H. A.) Maschut
- Tempat lahir: Malang, Jawa Timur
- Tanggal lahir: 15 Februari 1940
- Jabatan: Wali Kota Kediri (1999–2009)
- Wafat: 25 Agustus 2021 (RS Dr. Saiful Anwar, Malang)
Pendidikan & Karier Birokrasi Awal
Achmad Maschut menempuh pendidikan di bidang ekonomi dan tercatat memiliki keterkaitan akademis dengan Universitas Brawijaya. Sebelum terjun ke panggung politik daerah, ia menapaki karier birokrasi yang solid — termasuk menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) di lingkungan pemerintahan daerah (tercatat pengalaman birokrasi di Malang) — yang kemudian menjadi batu loncatan menuju jabatan wali kota.
Menjadi Wali Kota Kediri (1999–2009)
Dipilih oleh DPRD Kota Kediri, Maschut mulai efektif memimpin kota pada 1999 dan kemudian terpilih kembali untuk periode kedua hingga 2009. Masa kepemimpinannya bertepatan dengan fase pasca-krisis moneter Indonesia, sehingga sejumlah kebijakan awalnya fokus pada pemulihan ekonomi lokal dan penataan tata pemerintahan kota.
Fokus Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan Maschut dikenal tegas namun dekat dengan masyarakat. Ia menaruh perhatian pada tiga bidang utama: pembangunan infrastruktur & penataan kota, penguatan budaya lokal, dan pembinaan olahraga — khususnya sepak bola lokal.
Pencapaian Utama
1. Penguatan Identitas Kota & Budaya
Maschut aktif memperkenalkan dan menghidupkan kembali berbagai kegiatan kebudayaan lokal, salah satunya ritual dan acara di sepanjang Sungai Brantas. Upaya ini dimaksudkan memperkuat identitas Kota Kediri sebagai pusat kebudayaan sekaligus kota modern.
2. Penataan Urban & Revitalisasi Pasar
Selama masa pemerintahannya, terdapat upaya revitalisasi pasar tradisional serta penataan ruang publik untuk meningkatkan kenyamanan dan keteraturan kota. Kebijakan ini menyasar pasar, fasilitas umum, dan perbaikan infrastruktur skala kota.
3. Pembinaan & Dukungan untuk Persik Kediri
Salah satu warisan paling terlihat dari kepemimpinan Maschut adalah dukungannya terhadap Persik Kediri. Klub yang menjadi kebanggaan warga Kediri meraih puncak prestasi nasional pada era awal 2000-an (gelar liga), dan Maschut mendapat julukan kehormatan “Bapake Macan Putih” atas perannya membina dan mendukung klub. Beberapa pemain kunci mendapat jaminan karier pasca-lapangan, termasuk status PNS untuk beberapa atlet sebagai bentuk penghargaan.
Kontroversi & Proses Hukum
Setelah masa jabatannya, H. A. Maschut terseret dalam pemberitaan terkait dugaan penyimpangan pada program asuransi pegawai Pemkot (kasus terkait AJB/Asuransi). Ia sempat diperiksa dalam proses penyidikan; namun laporan menyebutkan status tersangkanya kemudian dicabut dan kasus tidak berlanjut ke putusan bersalah. Dokumentasi media lokal menyorot proses hukum ini, namun tidak ada vonis akhir yang menyatakan hukuman terhadapnya.
Kehidupan Pribadi
Maschut menikah dengan Ni Ketut Sutji Setyawati. Keluarga dan jaringan sosialnya memainkan peran penting dalam kehidupan politik lokal—termasuk keterkaitan keluarga dengan manajemen Persik dan calon-calon politik lokal di periode berikutnya.
Akhir Hayat
Pada 25 Agustus 2021, H. A. Maschut wafat di RS Dr. Saiful Anwar, Malang karena komplikasi penyakit. Kepergiannya mendapat perhatian luas dari Pemkot Kediri, kalangan masyarakat, dan komunitas Persik. Jenazah dimakamkan di kota kelahirannya.
Warisan & Citra Publik
Warisan Maschut bersifat ganda: nyata dalam pembangunan fisik dan institusional kota, serta immaterial dalam bentuk gaya kepemimpinan yang merakyat dan dukungan terhadap kultur lokal. Julukan “Bapake Macan Putih” tetap menjadi pengingat peran besarnya dalam sejarah sepak bola dan kebanggaan masyarakat Kediri.
Aspek Positif
- Gaya kepemimpinan yang merakyat dan mudah didekati.
- Dorongan untuk mengembangkan identitas budaya setempat.
- Dukungan konkret terhadap dunia olahraga lokal (Persik Kediri).
Catatan Kritis
- Kasus asuransi pegawai yang melibatkan pejabat Pemkot menunjukkan tantangan akuntabilitas pada masa transisi pemerintahan lokal.
- Beberapa kebijakan budaya perlu dianalisis lebih lanjut untuk menilai dampak sosial jangka panjangnya.
Kesimpulan
Drs. H. Achmad Maschut adalah figur kompleks: seorang birokrat yang berubah menjadi politisi daerah berpengaruh, pendukung kuat olahraga lokal, sekaligus sosok yang pernah terseret pada isu hukum setelah masa jabatan. Meski demikian, ia dikenang sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat dan berperan besar dalam membentuk wajah modern Kota Kediri.
Referensi & Bacaan Lebih Lanjut
- Pengumuman & duka resmi Pemkot Kediri
- Liputan Antara: Mantan Wali Kota Kediri tutup usia
- Wikipedia (Achmad Maschut)
- Bola.com — persik & julukan "Bapake Macan Putih"
- Radar Kediri / Jawa Pos — kenangan kolega
- Kabarmalang — laporan pemakaman
Catatan: beberapa rincian (mis. tanggal lahir, latar pendidikan) lebih baik diverifikasi ulang lewat arsip resmi atau dokumen kependudukan bila diperlukan dalam publikasi yang membutuhkan akurasi absolut.
Komentar
Posting Komentar