Langsung ke konten utama

Candi Surowono dan Terowongan Misterius di Kediri: Jejak Majapahit yang Masih Hidup

Candi Surowono dan Terowongan Misterius di Kediri: Jejak Majapahit yang Masih Hidup

Kediri – Di tengah perkampungan tenang di Dusun Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Badas, berdiri sisa kejayaan masa lampau yang menjadi saksi bisu kejayaan Majapahit. Candi Surowono — atau sering disebut Candi Surawana — bukan sekadar tumpukan batu purbakala, melainkan peninggalan bersejarah yang menyimpan kisah politik, seni, dan legenda yang hingga kini terus memikat perhatian peneliti dan wisatawan.

Jejak Bhre Wengker di Tanah Kediri

Menurut catatan arkeologi dan sejarah Jawa Timur, Candi Surowono dibangun sekitar tahun 1390 Masehi dan disempurnakan sekitar tahun 1400 M. Candi ini didirikan sebagai monumen pendharmaan (makam simbolis) bagi Wijayarajasa — penguasa Bhre Wengker yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan Majapahit.

Pembangunan candi ini mencerminkan penghormatan kepada bangsawan yang dianggap berjasa dalam memperkuat wilayah kekuasaan Majapahit di bagian barat daya. Dalam konteks politik, Surowono bukan hanya tempat pemujaan, tetapi juga penegasan simbolik tentang loyalitas daerah terhadap pusat kerajaan.

Arsitektur dan Relief yang Sarat Makna

Candi Surowono memiliki denah berbentuk bujur sangkar berukuran sekitar 7,8 meter × 7,8 meter, dengan tinggi kaki mencapai sekitar 4–4,7 meter. Kini hanya bagian kaki dan sebagian badan bawah yang masih berdiri tegak, sementara batu-batu lainnya tersusun rapi menunggu proses rekonstruksi.

Pada sisi-sisi kaki candi terukir relief-relief indah yang bercerita tentang kisah moral dan legenda Jawa kuno, seperti Arjunawiwaha, Sri Tanjung, dan berbagai fabel binatang. Relief ini bukan sekadar hiasan — ia menjadi bentuk komunikasi budaya dan ajaran moral yang diwariskan melalui simbol dan cerita bergambar.

Relief yang dipahat dengan detail memperlihatkan keahlian seniman Majapahit dalam menggabungkan nilai sastra dan seni rupa. Setiap panel bercerita tentang kebaikan, kesetiaan, hingga keadilan, yang menggambarkan filosofi hidup masyarakat masa itu.

Terowongan Surowono: Antara Fakta Arkeologi dan Cerita Rakyat

Tak jauh dari lokasi candi, terdapat sebuah lorong bawah tanah yang oleh warga disebut Gua atau Terowongan Surowono. Di dalamnya mengalir air jernih, dan banyak yang percaya bahwa lorong ini dulunya memiliki fungsi penting dalam sistem air atau ritual keagamaan di masa Majapahit.

Beberapa sumber arkeologi lokal menyebut terowongan ini mungkin merupakan bagian dari sistem kanal air suci atau drainase candi. Air dianggap unsur pemurnian dalam upacara Hindu, sehingga keberadaan saluran bawah tanah bukan hal aneh pada kompleks candi masa itu.

Namun, di luar versi akademis, masyarakat sekitar juga memiliki versi legenda. Ada yang meyakini bahwa terowongan tersebut tembus hingga ke wilayah Trowulan — pusat kerajaan Majapahit — meski hingga kini belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Penelusuran resmi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur belum menemukan bukti bahwa terowongan memiliki jalur jauh atau bercabang panjang.

Situs Bersejarah yang Masih Hidup

Saat ini, kawasan Candi Surowono sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Pemerintah daerah bersama masyarakat sekitar terus menjaga kebersihan dan keamanan situs. Pagar besi melindungi area gua, sementara relief candi terus dijaga agar tidak rusak akibat cuaca dan waktu.

Meski sebagian besar struktur candi telah runtuh, keindahan dan atmosfer spiritual tempat ini masih terasa kuat. Suasana tenang, pepohonan rindang, dan gemericik air dari saluran bawah tanah menciptakan perpaduan unik antara sejarah dan ketenangan alam.

Menjaga Warisan Leluhur

Candi Surowono adalah pengingat bahwa Kediri — yang sering disebut “tanah bertuah” dalam sejarah Jawa — memiliki peran penting dalam perjalanan panjang peradaban Nusantara. Setiap relief, setiap batu, dan bahkan setiap legenda tentang terowongannya menyimpan pesan tentang kebesaran masa lalu dan pentingnya menjaga peninggalan sejarah untuk generasi mendatang.

Bagi peneliti, situs ini menjadi laboratorium terbuka yang memadukan arkeologi, sastra, dan antropologi. Bagi wisatawan, Surowono menawarkan pesona eksotis yang berbeda dari candi-candi besar di Jawa lainnya — lebih sunyi, lebih dekat dengan masyarakat, dan lebih hidup dalam cerita rakyat.


Lokasi: Dusun Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, Jawa Timur
Koordinat: -7.7934, 112.1050 (akses mudah dari Pare ± 4 km ke arah barat laut)

Sumber kredibel:
– Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (BPCB)
– Kominfo Jatim / situs resmi Pemprov Jatim
– Laporan arkeologi Candi Surawana (1390–1400 M)
– Dokumentasi Wikimedia Commons & penelitian arkeolog lokal


 #CandiSurowono #Majapahit #Kediri #CagarBudaya #WisataSejarah #IndonesiaHeritage

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa Jagalan Kediri

Berita Lokal • Kediri Ratusan Seniman Jaranan Kediri Bersatu Setelah Bhabinkamtibmas Jagalan Dilaporkan Published: October 14, 2025 • Kelurahan Jagalan, Kota Kediri Ringkasan: Kasus pelaporan Bhabinkamtibmas Kelurahan Jagalan, Aiptu Soni Andiyan Effendi, oleh seorang seniman jaranan bernama Bayu memicu gelombang solidaritas dari ratusan pelaku seni tradisional di Kediri. Mereka berencana menggelar aksi damai dan meminta proses hukum yang transparan. Kronologi Kasus di Jagalan Kediri KEDIRI – Peristiwa terjadi saat pertunjukan jaranan di kawasan Kelurahan Jagalan . Ketika suasana mulai ricuh, Aiptu Soni yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas setempat berusaha melerai. Namun, muncul tuduhan bahwa ia melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang penonton bernama Bayu. Bayu kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Kediri Kot...

Oknum Polisi Kediri Diduga Terlibat Jaringan Bandar Sabu

Oknum Polisi Kediri Diduga Terlibat Jaringan Bandar Sabu KEDIRI – Dunia penegakan hukum di Kota Kediri kembali diguncang kabar tidak sedap. Seorang oknum anggota kepolisian berinisial Bripka AT diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkoba jenis sabu-sabu. Kasus ini mencuat setelah aparat berhasil mengamankan seorang pemakai, yang kemudian mengarah pada pengembangan penyidikan hingga menyeret nama oknum tersebut. Menurut laporan Radar Kediri (Jawa Pos Group), penangkapan bermula dari penggerebekan terhadap seorang pengguna sabu. Dari hasil interogasi dan pengembangan kasus, petugas menemukan bahwa pemakai tersebut mendapatkan barang haram dari seorang bandar yang diduga menerima uang dari Bripka AT untuk “kulakan” sabu-sabu. Kapolres Kediri Kota, AKBP Anggi Saputra Ibrahim , saat dikonfirmasi media menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir anggota yang terlibat dalam tindak pidan...

Kasus Bhabinkamtibmas Jagalan Kediri Berakhir Damai, Warga dan Polisi Saling Memaafkan

Kasus Bhabinkamtibmas Jagalan Kediri Berakhir Damai, Warga dan Polisi Saling Memaafkan Kediri – Kasus laporan warga terhadap oknum Bhabinkamtibmas Kelurahan Jagalan, Kecamatan Kota, Kota Kediri , akhirnya menemukan titik terang. Setelah sempat ramai dibicarakan publik, kedua pihak sepakat berdamai dan saling memaafkan tanpa melanjutkan ke proses hukum. Latar Belakang Kasus Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 11 Oktober 2025 , saat berlangsungnya pertunjukan kesenian jaranan di lingkungan Jagalan. Seorang warga (inisial B ) mengaku mendapat perlakuan kasar dari seorang anggota polisi berpangkat Aiptu, yang diketahui bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di kelurahan tersebut. Usai kejadian, korban sempat melapor ke Divisi Propam Polres Kediri Kota dengan didampingi organisasi kepemudaan HIPERI (Himpunan Pemuda Kediri) . Laporan ini mendapat perhatian publik, karena dinilai menjadi ujian bagi transparansi dan etika kepolisian di tingkat ...