Alas Simpenan Kediri: Aset Konservasi Nasional dan Pusat Ficus
Laporan Analisis Konservasi Strategis
Cagar Alam Manggis Gadungan (Alas Simpenan), Kediri
I. Ringkasan Eksekutif: Alas Simpenan sebagai Aset Konservasi Nasional
Cagar Alam Manggis Gadungan, atau yang secara lokal dikenal sebagai Alas Simpenan, merupakan kawasan konservasi yang memiliki signifikansi ganda: sebagai situs historis kolonial dan sebagai pilar strategis dalam konservasi ekologis modern. Kawasan ini ditetapkan sejak tahun 1919 dan kini berstatus IUCN Category Ia (Cagar Alam Lindung) — status konservasi paling ketat di dunia.
Namun dalam praktiknya, kawasan ini juga berfungsi sebagai wanawisata (wisata hutan terbatas), didorong oleh populasi besar Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis) serta lokasinya yang mudah diakses. Sejak tahun 2022, kawasan ini juga menyandang status baru sebagai Pusat Ficus Nasional (PFN), mengukuhkan peran pentingnya dalam menjaga kestabilan hidrologi di lereng Gunung Kelud.
Pengelolaan Alas Simpenan dilakukan secara terpadu antara Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Perum Perhutani dengan sistem zonasi inti dan zona penyangga seluas 40 hektare. Sinergi relawan dan program pemberdayaan masyarakat menjadi pilar keberlanjutan kawasan ini.
II. Konteks Fundamental dan Status Hukum
2.1 Lokasi dan Geografis
Secara resmi dikenal sebagai Cagar Alam Manggis Gadungan, kawasan ini berada di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, di kaki Gunung Kelud. Koordinat geografisnya: 7°50'47''S, 112°14'02''E. Dari Alun-alun Kediri berjarak sekitar 33 km atau 30 menit perjalanan dari Simpang Lima Gumul.
2.2 Penetapan Historis dan Regulasi
CA Manggis Gadungan ditetapkan melalui Staatsblad No. 382/1919 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kini berada di bawah kewenangan KLHK melalui BBKSDA Jawa Timur. Luasan kawasan tercatat antara 12 hingga 13,356 hektare. Meski termasuk kawasan dengan pembatasan akses ketat, aktivitas publik historis telah lama berjalan, terutama karena daya tarik monyet yang jinak dan lingkungan hutan yang sakral.
III. Signifikansi Ekologis dan Keanekaragaman Hayati
3.1 Pusat Ficus Nasional (PFN)
Penetapan Alas Simpenan sebagai Pusat Ficus Nasional tahun 2022 menegaskan pentingnya pohon Ficus (Leses, Ficus albipila) dalam menjaga sumber air dan kestabilan ekosistem. Spesies Ficus variegata dan tanaman lokal lain seperti Pala Jawa turut memperkaya fungsi hidrologis kawasan.
3.2 Spesies Fauna dan Indikator Ekologi
- Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis): Populasi utama yang menjadi ikon wisata. Namun perlu pengelolaan agar tidak tergantung pada pakan manusia.
- Burung Kukuk Seloputo (Strix seloputo): Indikator keutuhan hutan, ditemukan berkembang biak di kawasan inti. Keberadaannya membuktikan integritas ekosistem yang sehat.
Flora tambahan di zona penyangga antara lain Matoa, Nangka, Jambu Jamaika, Alpukat, dan Trembesi, berfungsi mendukung pakan satwa dan menjaga diversitas alami.
IV. Strategi Zona Penyangga dan Revitalisasi
Zona penyangga seluas 40 hektare di bawah lahan Perhutani berperan penting melindungi kawasan inti dari tekanan manusia. Reboisasi dilakukan bertahap sejak 2020 oleh komunitas seperti Gerakan Nasional Donor Pohon (GNDP), ARPL Kediri, Pokdarwis Sumber Jembangan, dan Pramuka Sakawanabakti.
Lebih dari 20.000 bibit pohon ditanam dengan fokus pada dua tujuan utama: mendukung konservasi Ficus untuk PFN dan menyediakan sumber pakan alami guna mengurangi interaksi manusia-satwa.
Ke depan, manajemen zona penyangga harus beralih dari sistem relawan insidentil menuju model ko-manajemen formal antara BBKSDA dan Perhutani dengan dukungan finansial jangka panjang.
V. Antarmuka Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi
5.1 Program Usaha Ekonomi Produktif (UEP)
BBKSDA Jatim menyalurkan bantuan modal Rp 28 juta per kelompok kepada masyarakat desa penyangga seperti Pokmas Alas Simpenan Sejahtera, Joyo Sedulur, dan Tjoelanggi. Dana ini mendorong usaha ramah lingkungan seperti budidaya lebah madu, pembibitan pohon, dan wisata edukatif.
Model UEP ini menjadi insentif sosial agar masyarakat berkomitmen menjaga hutan sambil meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan.
VI. Dinamika Pariwisata dan Tantangan Konservasi
Walau berstatus cagar alam, Alas Simpenan kerap dikunjungi masyarakat dan pelajar karena keindahan hutannya dan populasi monyet jinak. Namun, status “wisata gratis” tanpa sistem retribusi menyebabkan keterbatasan dana untuk infrastruktur seperti toilet, parkir, dan pengelolaan sampah.
Kegiatan “Aksi Bersih Alas Simpenan” oleh relawan menjadi langkah penting menjaga kebersihan dan mengurangi ancaman ekologis dari sampah pengunjung.
VII. Rekomendasi Strategis untuk Keberlanjutan
- Evaluasi Status IUCN & Zonasi Fungsional: Kajian reklasifikasi menuju zona akses terkelola agar dapat memberlakukan biaya konservasi sah secara hukum.
- Pendanaan PFN: Alokasi nasional untuk riset Ficus, monitoring hidrologi, dan plot penelitian permanen.
- Ko-Manajemen Zona Penyangga: Pelembagaan kerja sama formal antara BBKSDA Jatim dan Perhutani dengan sistem kompensasi komunitas.
- Ekowisata Edukatif: Larangan memberi makan monyet, edukasi pengunjung, serta perbaikan fasilitas dasar melalui subsidi daerah atau dana konservasi.
- Penguatan UEP: Pendampingan intensif dan pelatihan berbasis konservasi seperti budidaya Ficus dan pandu wisata alam.
Dengan strategi terintegrasi ini, Alas Simpenan Kediri dapat berkembang sebagai pusat konservasi nasional yang tidak hanya melestarikan ekosistem Gunung Kelud, tetapi juga memperkuat kesejahteraan masyarakat sekitar secara berkelanjutan.
Penulis: Tim Analisis Konservasi Kediri
Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perhutani, GNDP, ARPL Kediri
Hashtag:
#AlasSimpenan #Kediri #KonservasiNasional #PusatFicus #GunungKelud #CagarAlam #BBKSDAJatim #Ekowisata #HutanLindung #RelawanHijau #IndonesiaHijau
Komentar
Posting Komentar